Berzakat Itu Kalcer, Ramadan 1447 H Bersama Dompet Dhuafa dan Cara Baru Menjaga Konsistensi Kebaikan

By Bowo Susilo - 19:56


Ada yang berbeda ketika saya menghadiri konferensi pers Ramadan 1447 H yang digelar oleh Dompet Dhuafa. Bukan hanya karena temanya terdengar segar “Berzakat itu Kalcer” tetapi karena cara gagasan itu diperkenalkan terasa dekat, tidak menggurui.

Acara yang berlangsung di Topgolf Fatmawati pada 11 Februari 2026 itu terasa santai, namun sangat bermakna. Di sana, Sulistiqamah selaku Ketua Ramadan 1447 H Dompet Dhuafa membuka pemaparan dengan semangat yang hangat. Ia menjelaskan bahwa kampanye “Berzakat itu Kalcer” bukan sekadar slogan kreatif, melainkan ajakan untuk menjadikan zakat sebagai budaya, sebagai bagian dari gaya hidup Muslim hari ini.

Menurutnya, Ramadan adalah momentum terbaik untuk membangun kebiasaan baik yang konsisten. Bukan hanya ramai di awal, lalu perlahan redup. Kebaikan perlu dijaga ritmenya.

Dari situlah berbagai program Ramadan tahun ini diperkenalkan. Mulai dari Tebar Zakat Fitrah, Yatim Remember (Ramadan Meriah Penuh Berkah), Ber-ojol (Bantu Rawat Kendaraan Ojek Online), Recovery Sumatra, Borong Dagangan Saudaramu, hingga Mudik Kalcer. Program reguler seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf juga terus berjalan, termasuk bantuan untuk menguatkan Ramadan saudara-saudara kita di Palestina.

Namun di antara banyaknya program itu, yang paling membuat saya diam sejenak justru satu hal yang sederhana, bagaimana menjaga agar niat baik tidak berhenti di niat.

Niat Itu Banyak, Konsistensi yang Mahal

Saya termasuk orang yang mudah tersentuh oleh ajakan kebaikan. Melihat konten tentang sedekah subuh, hati saya tergerak. Membaca kisah perjuangan seseorang, saya ingin berbagi. Masalahnya bukan pada niat. Masalahnya pada konsistensi.


Sering kali saya berpikir, “Nanti saja setelah meeting.” Atau, “Nanti malam sekalian.” Dan seperti yang sering terjadi, “nanti” itu perlahan menghilang.

Ramadan biasanya membuat saya lebih disiplin. Tapi kalau jujur, kedisiplinan itu sering menurun setelah bulan suci berlalu. Padahal yang kita butuhkan bukan hanya lonjakan kebaikan, melainkan keberlanjutan.

Mungkin di situlah makna “Berzakat itu Kalcer” mulai terasa. Bukan menjadikan zakat sekadar tren musiman, melainkan bagian dari budaya, sesuatu yang wajar, rutin, dan melekat dalam keseharian.

Ketika Kebaikan Diberi Sistem

Salah satu hal yang diperkenalkan dalam konferensi pers tersebut adalah fitur Sedekah Rutin di aplikasi Dompet Dhuafa.

Konsepnya cukup jelas, sedekah bisa diatur otomatis, harian, mingguan, atau bulanan. Nominalnya fleksibel. Bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Bahkan tersedia pilihan untuk mengatur sedekah di waktu-waktu spesial seperti sedekah subuh, sedekah Jumat, atau sedekah harian selama Ramadan.


Gagasan ini terasa relevan dengan kehidupan kita yang serba cepat. Karena sering kali, yang membuat kebaikan tertunda bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena kita tidak punya sistem.

Kebaikan yang diberi sistem bukan berarti kehilangan makna. Justru di situlah ia menemukan keberlanjutannya.

Integrasi dalam Satu Ekosistem Digital

Aplikasi Dompet Dhuafa terintegrasi dengan M2U Maybank Syariah melalui proses account binding. Skema ini memungkinkan kedua aplikasi terhubung dalam satu alur transaksi, sehingga donasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan saldo yang tersedia di M2U.

Melalui integrasi tersebut, pengguna yang telah menghubungkan akun akan dapat melihat informasi saldo Maybank Syariah di dalam aplikasi Dompet Dhuafa. Sistem ini dirancang agar proses donasi berlangsung dalam satu ekosistem digital, tanpa perlu melakukan pengisian data berulang pada setiap transaksi.

Bagi masyarakat urban yang sudah terbiasa menggunakan mobile banking untuk kebutuhan sehari-hari, pendekatan ini terasa selaras dengan pola transaksi yang semakin digital. Sedekah tidak lagi berdiri sebagai aktivitas terpisah, melainkan menjadi bagian dari pengelolaan keuangan yang terencana.

Ramadan yang Lebih Tenang

Saya merenung cukup lama setelah acara itu. Tentang niat yang sering kalah oleh kesibukan. Tentang semangat Ramadan yang sering memuncak, lalu perlahan mereda.

Bayangkan jika setiap hari ada kebaikan kecil yang berjalan tanpa harus menunggu suasana hati. Bayangkan jika kita tidak lagi bergantung pada momentum, tetapi membangun kebiasaan.

Konsistensi, meski dalam nominal kecil, sering kali lebih berdampak daripada ledakan semangat yang hanya bertahan sesaat.

Ramadan selalu identik dengan ketenangan. Namun ketenangan itu bukan hanya soal suasana, melainkan tentang keyakinan bahwa ada upaya nyata yang terus berjalan pelan, tapi pasti.

Berzakat Itu Kalcer, Bukan Sekadar Tren

Dalam benak saya, “kalcer” bukan berarti mengikuti tren sesaat seperti Gen Z sekarang ini ya. Ia berarti sesuatu yang hidup dan tumbuh dalam keseharian.


Jika hari ini kita sudah terbiasa dengan auto-debit untuk tagihan listrik, langganan streaming, atau cicilan, mengapa tidak membiasakan hal yang sama untuk sedekah?

Dompet Dhuafa melalui kampanye Ramadan 1447 H ini seolah mengajak kita melihat zakat, infak, dan sedekah sebagai bagian dari gaya hidup Muslim modern yang adaptif terhadap teknologi, namun tetap berakar pada nilai. Ramadan menjadi momentum. Teknologi menjadi jembatan. Dan konsistensi menjadi tujuan.

Memulai dari yang Kecil, Tapi Terus Konsisten

Saya belajar satu hal dari acara ini, kita tidak perlu menunggu menjadi lebih mapan untuk konsisten berbagi. Kita hanya perlu memulai dari nominal yang sanggup kita jaga. Sedekah tidak harus besar. Yang penting berkelanjutan.


Bagi siapa pun yang merasa sering lupa, sering menunda, atau merasa niatnya kalah oleh rutinitas, pendekatan sedekah rutin seperti ini bisa menjadi jembatan yang baik.

Ramadan selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tahun ini, saya mencoba memperbaiki cara memaknai berbagi bukan sebagai momen sesaat, melainkan sebagai kebiasaan yang dirawat.

Jika kebaikan bisa berjalan setiap hari tanpa harus menunggu kita sempurna, mungkin itulah budaya yang layak kita bangun.

Dan mungkin, di sanalah makna sebenarnya dari “Berzakat itu Kalcer.”

Selamat menyambut Ramadan, semoga sehat-sehat dan dilancarkan ibadahnya, Aamiin.




  • Share:

You Might Also Like

0 komentar