Indonesia Humanitarian Summit 2025: Empowerment to the Next Level dan Harapan Baru Filantropi Indonesia
Jakarta 15 Januari 2026, saya menghadiri sebuah acara yang membuat saya pulang dengan banyak pikiran sekaligus harapan. Acara itu adalah Indonesia Humanitarian Summit 2025, yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa bersama Nusantara TV. Temanya sederhana, tapi maknanya dalam: Empowerment to the Next Level.
Sejak pertama datang ke venue di Ballroom Nusantara TV Lantai 5, suasananya sudah terasa berbeda. Bukan sekadar acara seremonial, tapi ruang refleksi buat semua yang hadir. Bahkan sebelum rangkaian utama dimulai, acara ini dibuka dengan Tari Saman yang dibawakan oleh anak-anak spesial, tunarungu dan tunawicara. Lewat gerak yang kompak dan penuh makna, mereka seakan menyampaikan satu pesan penting yaitu keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkontribusi.
Pembukaan itu langsung menjadi pengingat bagi saya, bahwa isu kemanusiaan bukan sekadar angka atau laporan tahunan. Ia hidup, nyata, dan ada di sekitar kita.
Dunia Sedang Berubah: Kenyataan Sosial yang Kita Hadapi Bersama
Dalam berbagai sesi diskusi dan pemaparan, Dompet Dhuafa mengajak para peserta yang hadir melihat kondisi global dan nasional secara lebih jujur. Dunia sedang berada di persimpangan besar. Ketidakpastian ekonomi, konflik berkepanjangan, perubahan iklim, hingga gejolak geopolitik menciptakan efek domino ke berbagai sektor kehidupan.
Indonesia pun tidak lepas dari dampaknya. Gelombang pemutusan hubungan kerja masih terjadi di banyak sektor, terutama industri manufaktur dan digital. Lapangan kerja semakin terbatas, sementara biaya hidup terus meningkat. Kelompok menengah yang selama ini menjadi penopang ekonomi nasional, kini banyak yang perlahan bergeser menjadi kelompok rentan.
Secara data, angka kemiskinan memang tercatat menurun. Namun, yang saya tangkap dari diskusi di acara ini, realitas di lapangan sering kali berkata lain. Kesenjangan sosial masih terasa, terutama di wilayah dengan akses pekerjaan dan layanan dasar yang terbatas.
Bukan Sekadar Bantuan: Mengapa Pemberdayaan Jadi Kunci
Satu benang merah yang terus diulang dalam Indonesia Humanitarian Summit 2025 adalah soal perubahan pendekatan. Dompet Dhuafa menegaskan bahwa filantropi hari ini tidak cukup hanya berhenti pada bantuan jangka pendek. Bantuan memang penting, terutama dalam situasi darurat. Namun, yang lebih krusial adalah bagaimana bantuan itu bertransformasi menjadi pemberdayaan.
Melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, hingga dakwah dan budaya, Dompet Dhuafa berupaya menghadirkan solusi yang terukur, berdampak, dan berkelanjutan. Tujuannya jelas yakni membantu masyarakat keluar dari jerat kemiskinan dan perlahan berdiri di atas kaki sendiri.
Dalam sesi Public Expose, Dompet Dhuafa juga menyampaikan capaian dan tata kelola organisasinya. Mulai dari penghargaan tingkat nasional, penerapan Good Corporate Governance, hingga berbagai sertifikasi internasional. Semua ini menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa amanah yang dititipkan benar-benar dikelola secara profesional.
Saat Diskusi Bertemu Aksi: Peran Filantropi dan Anak Muda
Yang menarik dari Indonesia Humanitarian Summit 2025 bukan hanya pemaparan satu arah, tapi juga ruang dialog yang dibuka. Ada sesi Poverty Outlook bersama para pakar, diskusi tentang peran lembaga filantropi dalam pemberdayaan yang selaras dengan arah pembangunan nasional, hingga pembahasan tentang peran anak muda dalam filantropi.
Lewat panel bertema Local Leader: Young Empowerment, Young Philanthropist, saya melihat harapan besar. Bahwa generasi muda bukan hanya objek perubahan, tapi subjek utama yang bisa mendorong dampak lebih luas lagi. Filantropi tidak lagi harus identik dengan lembaga besar, tapi bisa dimulai dari kesadaran dan aksi kecil yang konsisten.
Selain diskusi, pameran program pemberdayaan Dompet Dhuafa juga memberi gambaran nyata tentang bagaimana zakat, infak, sedekah, dan wakaf dikelola untuk menciptakan dampak jangka panjang.
Pulang dengan Harapan: Filantropi sebagai Gerakan Bersama
Pulang dari acara ini, saya membawa satu refleksi sederhana. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, solidaritas dan empati justru menjadi nilai yang paling mahal. Indonesia Humanitarian Summit 2025 mengingatkan saya bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah spektakuler, tapi dari konsistensi untuk terus peduli dan terlibat.
Dompet Dhuafa, lewat forum ini, menunjukkan bahwa filantropi bukan hanya tentang memberi, tapi tentang membangun masa depan bersama. Tentang memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, dan setiap orang punya kesempatan untuk hidup lebih bermartabat.
Semoga ke depan, semakin banyak ruang seperti ini yang tidak hanya mengajak kita mendengar, tapi juga bergerak. Karena pada akhirnya, kemanusiaan adalah tanggung jawab kita bersama.
Salam,







0 komentar