The Power of Presence: Ketika Cara Kita Hadir Sama Pentingnya dengan Apa yang Kita Sampaikan
Sebagai content creator, saya cukup sering berpikir bahwa yang paling penting dari sebuah konten adalah apa yang ingin kita sampaikan.
Kamera bagus, lighting bagus, editing rapi, konsep menarik, semuanya tentu punya peran.
Tapi beberapa waktu lalu, saya mengikuti #ISBWorkshop di Nutrihub Jakarta dengan tema “The Power of Presence: Building Confidence Through Personal Grooming and Effective Communication”, dan saya kembali diingatkan pada satu hal yang sering kali justru kita lupakan:
Sebelum orang mendengarkan apa yang kita katakan, mereka sudah lebih dulu melihat bagaimana kita hadir.
Mulai dari cara kita membawa diri, cara berkomunikasi, sampai bagaimana kita membangun kepercayaan.
Dan ternyata, hal-hal seperti ini sangat dekat dengan kehidupan saya sehari-hari sebagai content creator.
Belajar dari Orang-Orang yang Memang Berpengalaman
Workshop ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang yang menarik.
Ada Dr. Eike Alexandrina, M.Sc., Lecturer of LSPR, seorang pakar komunikasi yang fokus pada Personal Branding serta Digital Marketing, dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia akademik dan industri.
Kemudian ada Latifa Ramonita, M.I.Kom, Lecturer of LSPR, yang fokus pada digital branding dan public speaking, serta memiliki pengalaman dalam digital marketing dan copywriting untuk salah satu majalah wanita terkemuka di Indonesia.
Diskusinya dipandu oleh Ani Berta, Founder Indonesian Social Blogpreneur Community, sebagai moderator.
Dari awal sampai akhir, saya merasa materi yang dibawakan cukup dekat dengan realita yang saya jalani.
Karena ketika kita bicara tentang personal branding, misalnya, sebenarnya ini bukan hanya soal bagaimana kita terlihat di media sosial.
Personal branding juga terbentuk dari bagaimana kita berbicara ketika bertemu orang, bagaimana kita menyampaikan pendapat, bagaimana kita membawa diri ketika berada di sebuah acara, sampai bagaimana kita membuat orang lain memiliki kesan terhadap diri kita.
Personal Branding Bukan Sekadar Feed yang Bagus
Ini salah satu hal yang cukup saya rasakan sebagai content creator.
Kadang kita terlalu fokus memikirkan bagaimana membuat konten terlihat bagus.
Mulai dari konsep, angle, editing, sampai caption.
Padahal, ada satu bagian yang tidak kalah penting: bagaimana kita sebagai orang di balik konten tersebut hadir dan berkomunikasi.
Karena pada akhirnya, audience bukan hanya melihat konten yang kita buat.
Mereka juga mengenal karakter kita.
Cara kita bicara, cara kita menjelaskan sesuatu, cara kita merespons orang lain, bahkan bagaimana kita membawa diri ketika berada di ruang publik, semuanya ikut membentuk personal branding.
Jadi menurut saya, personal branding itu bukan sesuatu yang hanya kita bangun ketika kamera menyala.
Justru, apa yang kita lakukan ketika kamera mati pun ikut membentuknya.
Ternyata Grooming Juga Punya Peran
Hal lain yang menarik dari workshop ini adalah pembahasan mengenai personal grooming.
Buat saya, grooming bukan sekadar soal harus selalu tampil formal, menggunakan pakaian tertentu, atau terlihat sempurna.
Lebih dari itu, ada kaitannya dengan bagaimana kita merasa percaya diri dengan diri sendiri.
Ketika kita merasa nyaman dengan penampilan dan cara kita membawa diri, biasanya cara kita berkomunikasi juga ikut berubah.
Kita menjadi lebih siap bertemu orang baru, lebih nyaman menyampaikan pendapat, dan lebih percaya diri ketika harus berada di depan banyak orang.
Dan ini sangat relevan dengan pekerjaan saya.
Sebagai content creator, saya cukup sering berada di depan kamera, bertemu dengan berbagai orang, menghadiri event, melakukan networking, sampai harus menyampaikan sesuatu kepada audience.
Jadi confidence bukan cuma dibutuhkan ketika sedang membuat video.
Confidence juga dibutuhkan ketika kita sedang menjadi diri kita sendiri di dunia nyata.
Komunikasi Itu Skill yang Dipakai Setiap Hari
Hal lain yang semakin saya sadari dari workshop ini adalah pentingnya komunikasi.
Kita bisa punya ide yang bagus, tetapi kalau cara menyampaikannya tidak tepat, pesan yang ingin kita sampaikan belum tentu sampai.
Sebaliknya, ketika kita bisa menyampaikan sesuatu dengan cara yang jelas, percaya diri, dan sesuai dengan karakter kita, orang akan lebih mudah memahami bahkan mempercayai pesan tersebut.
Ini yang menurut saya menarik.
Personal grooming, personal branding, digital branding, public speaking, dan komunikasi ternyata saling berhubungan.
Semuanya membentuk bagaimana orang melihat dan merasakan kehadiran kita.
Dan bagi saya, ini bukan sekadar teori yang selesai setelah workshop.
Ini sesuatu yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nyaman untuk Belajar dan Bertemu Orang Baru di Nutrihub Jakarta
Selain materinya, saya juga menikmati suasana acaranya karena berlangsung di Nutrihub Jakarta.
Tempatnya menurut saya cukup nyaman untuk kegiatan seperti workshop, gathering, meeting, maupun acara komunitas.
Lokasinya juga strategis, berada di kawasan Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sehingga cukup mudah dijangkau bagi yang beraktivitas di area tersebut.
Buat saya, venue juga punya peran dalam sebuah acara.
Tempat yang nyaman membuat kita lebih mudah fokus mengikuti materi, berdiskusi, dan tentunya membuka kesempatan untuk networking dengan orang-orang baru.
Jadi kalau Anda sedang mencari tempat untuk mengadakan workshop, meeting, atau kegiatan komunitas, Nutrihub Jakarta bisa menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk dipertimbangkan.
Setelah Workshop, Saya Jadi Makin Sadar
Pulang dari #ISBWorkshop ini, saya jadi semakin sadar bahwa presence bukan sesuatu yang muncul begitu saja.
Ada banyak hal yang membentuknya.
Cara kita merawat diri, cara kita berkomunikasi, bagaimana kita membangun personal branding, sampai bagaimana kita membawa diri ketika bertemu dengan orang lain.
Dan sebagai content creator, semua ini terasa semakin relevan.
Karena pekerjaan saya bukan cuma membuat konten.
Saya juga sedang membangun koneksi, menyampaikan pesan, membangun kepercayaan, dan menunjukkan siapa diri saya kepada audience.
Jadi mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya:
“Apa yang ingin saya sampaikan?”
Padahal ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
“Seperti apa saya hadir ketika menyampaikannya?”
Karena sebelum pesan kita didengar, presence kita sudah lebih dulu berbicara.
Salam,







0 komentar