Dari Kebun ke Meja Makan: Belajar Restorasi Ekonomi dari Kick Off EBS di Seniman Pangan

By Bowo Susilo - 16:29


Kalau biasanya saya datang ke sebuah event, duduk, mendengarkan pembicara, mencatat beberapa poin penting, lalu pulang, pengalaman mengikuti Kick Off EBS di Seniman Pangan kali ini terasa jauh berbeda.

Karena kami bukan cuma datang untuk mendengarkan materi.

Kami diajak turun langsung ke kebun, memegang tanah, memanen hasil pangan, menanam sayuran, belajar mengolah bahan makanan, sampai mencicipi makanan lokal dari berbagai daerah di Indonesia.

Jadi kalau ditanya apa yang paling saya ingat dari kegiatan ini, jawabannya bukan cuma materi yang disampaikan.

Tapi pengalaman ketika saya benar-benar melihat dari mana makanan yang kita konsumsi berasal.

Dan jujur, dari situ saya jadi berpikir:

Selama ini kita sering bicara soal makanan lokal, tapi seberapa sering kita benar-benar mengenal proses di baliknya?

Di Seniman Pangan, saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan itu secara langsung.

Bukan Sekadar Gathering, Tapi Langsung Turun ke Kebun

Salah satu bagian yang paling seru dari Kick Off EBS ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman baru.

Ada suasana gathering yang terasa hangat, tetapi di saat yang sama kami juga mendapatkan pengalaman yang menurut saya cukup unik.

Kami diajak berkeliling area kebun di Seniman Pangan.

Dan di sini saya baru benar-benar melihat bahwa satu lahan bisa menyimpan begitu banyak cerita.




Ada berbagai macam tanaman yang bisa kami lihat secara langsung. Bukan sekadar melihat dari jauh, tapi kami juga diajak untuk melakukan praktik langsung.

Mulai dari memanen singkong, panen tebu, panen kopi, memanen sayuran, sampai menanam sayuran.

Jadi bukan cuma, “Oh, ternyata tanaman singkong bentuknya seperti ini.”

Kami benar-benar ikut mencabut dan memanen.

Begitu juga ketika melihat tanaman kopi. Ada pengalaman berbeda ketika kita melihat langsung tanaman dan prosesnya, dibanding hanya mengenal kopi dalam bentuk minuman yang sudah jadi di meja.

Buat saya, pengalaman seperti ini justru membuat kita lebih menghargai makanan yang sehari-hari kita konsumsi.

Karena ternyata, ada proses panjang sebelum sesuatu yang sederhana seperti singkong, sayuran, tebu, atau kopi bisa sampai ke tangan kita.

Belajar Pangan dengan Cara yang Benar-Benar Bisa Dirasakan

Yang menarik, kegiatan di Seniman Pangan tidak berhenti di kebun.

Setelah melihat dan memanen bahan pangan, kami juga diajak untuk mengolahnya.

Kami belajar membuat selai dan juga membuat sirup kemangi.


Nah, bagian ini juga menarik karena saya jadi melihat bahwa bahan pangan lokal sebenarnya bisa punya banyak kemungkinan.

Kadang kita melihat satu bahan makanan hanya dari bentuk yang sudah familiar.

Padahal kalau diolah dengan kreativitas dan pengetahuan yang tepat, bahan tersebut bisa dikembangkan menjadi produk yang berbeda, punya nilai tambah, dan tentunya punya cerita sendiri.

Ini yang menurut saya menjadi salah satu insight penting dari pengalaman di Seniman Pangan.

Pangan lokal bukan berarti sesuatu yang sederhana atau kalah menarik.

Justru dari bahan-bahan yang berasal dari daerah sekitar, kita bisa menciptakan sesuatu yang punya nilai ekonomi sekaligus tetap membawa identitas dari daerah asalnya.

Dan ketika kita mengetahui cerita di balik bahan tersebut, rasanya menjadi berbeda.

Bukan sekadar makan.

Tapi ada cerita tentang tempat, masyarakat, pengetahuan, dan tradisi yang ikut hadir di dalamnya.

Dari Pangan Lokal, Kita Bisa Bicara Restorasi Ekonomi

Salah satu pesan penting dari campaign ini yang menurut saya menarik untuk direnungkan adalah tentang awareness for economic restoration using locally sourced food and its relation with the IPLC’s heritage.

Kalau diterjemahkan dalam pengalaman saya selama mengikuti kegiatan ini, saya melihat bahwa pangan lokal bisa menjadi salah satu pintu untuk ikut berkontribusi terhadap restorasi ekonomi.

Caranya tidak selalu harus sesuatu yang besar.

Bahkan bisa dimulai dari rumah.

Ketika kita memilih pangan yang berasal dari daerah setempat, kita sebenarnya ikut memberikan ruang bagi produk lokal untuk terus hidup dan berkembang.

Ada petani, produsen, komunitas, pengolah pangan, sampai orang-orang yang menjaga pengetahuan tradisional di baliknya.

Semakin kita mengenal dan menghargai pangan lokal, semakin besar juga kemungkinan pengetahuan dan praktik tersebut terus diteruskan.

Di sinilah hubungan dengan IPLC atau Indigenous Peoples and Local Communities (Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal) menjadi penting.

Karena makanan bukan cuma soal apa yang masuk ke dalam tubuh.

Di balik sebuah makanan bisa ada pengetahuan tradisional, cara bercocok tanam, cara mengolah bahan, resep yang diwariskan, sampai hubungan masyarakat dengan alam dan wilayah tempat mereka tinggal.

Kalau semua itu hilang, yang hilang bukan cuma sebuah jenis makanan.

Bisa jadi ada bagian dari pengetahuan dan warisan budaya yang ikut hilang.

Dan Ternyata Makan Siangnya Juga Jadi Bagian dari Cerita

Setelah puas berkeliling dan melakukan berbagai aktivitas, tentu saja ada satu bagian yang tidak boleh dilewatkan: makan siang.

Tapi ini bukan sekadar makan siang biasa.

Teman-teman dari Seniman Pangan memperkenalkan berbagai makanan dari daerah di Indonesia.


Mulai dari Sambal Tumpang (Sayur), Inter Singkong dari Bogor, Nasi Subut dari Kalimantan, Ayam Tangkap dari Aceh, Ikan Goreng, Tahu Tempe Bacem, Sate Singkong dengan sambal kacang dari Mollo NTT, sampai Perkedel Jagung dari Mollo NTT.

Untuk condiment-nya juga tidak kalah menarik.

Ada Sambal Beberok dari NTB, Sambal Terong Belanda dari Sumatera Selatan, Kerupuk dan Emping.

Lalu untuk dessert, kami juga bisa menikmati Rujak Aceh serta Sagu Sep Pisang dengan Gelatto dari Papua.

Jujur, dari satu meja makan saja saya merasa seperti sedang diajak jalan-jalan keliling Indonesia.

Yang menarik bukan hanya rasanya.

Tapi ketika kita tahu makanan tersebut berasal dari daerah tertentu, kita jadi mulai penasaran dengan cerita di baliknya.

Kenapa makanan ini dibuat seperti itu?

Dari mana bahannya?

Bagaimana masyarakat setempat mengolahnya?

Dan bagaimana makanan tersebut menjadi bagian dari kehidupan mereka?

Menurut saya, di situlah makanan lokal menjadi jauh lebih menarik.

Ada Orang-Orang yang Menjaga Cerita di Balik Pangan

Selama kegiatan, kami juga mendapatkan insight dari teman-teman Seniman Pangan yang punya peran masing-masing dalam mengembangkan ekosistem ini.


Ada Mama Etih Suryatin – Partnership Director Seniman Pangan, kemudian Johanna Hehakaja – Business Director Sekolah Seniman Pangan, dan Corazon Nikijuluw – Food Technology & Education Manager Seniman Pangan.

Dari pengalaman mengikuti kegiatan ini, saya semakin melihat bahwa menjaga pangan lokal bukan hanya pekerjaan satu pihak.

Ada banyak orang dengan peran berbeda yang dibutuhkan agar pengetahuan, bahan pangan, pengolahan, edukasi, sampai nilai ekonominya bisa terus berjalan.

Dan mungkin inilah yang sering tidak kita lihat ketika hanya bertemu dengan makanan yang sudah tersaji cantik di meja.

Kita melihat hasil akhirnya.

Tapi ada begitu banyak proses dan manusia di belakangnya.

Pengalaman Ini Membuat Saya Lebih Menghargai Apa yang Ada di Sekitar Kita

Buat saya pribadi, kegiatan Kick Off EBS di Seniman Pangan ini memberikan perspektif yang cukup berbeda.

Saya datang untuk mengikuti kegiatan dan bertemu teman-teman baru.

Tapi pulang membawa cara pandang baru tentang pangan.

Bahwa memilih makanan lokal sebenarnya bisa menjadi bentuk kontribusi yang sederhana.

Tidak harus menunggu kita punya bisnis besar.

Tidak harus menunggu kita bisa melakukan sesuatu yang luar biasa.

Bisa dimulai dari hal yang paling dekat:

Apa yang kita makan.

Ketika kita memilih pangan lokal, mengenal produknya, membeli dari sumber lokal, atau sekadar memperkenalkan makanan daerah kepada orang lain, kita ikut membantu menjaga agar rantai tersebut tetap hidup.

Dan di saat yang sama, kita juga ikut menjaga cerita serta pengetahuan yang melekat pada pangan tersebut.

Mengingat Kembali Hari Masyarakat Adat Sedunia

Momentum ini juga terasa semakin relevan karena 9 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia atau International Day of the World's Indigenous Peoples.

Menurut saya, momen ini menjadi pengingat bahwa ketika kita membicarakan pangan lokal, kita juga perlu melihat lebih jauh dari sekadar produk.

Ada masyarakat, budaya, pengetahuan, dan warisan yang perlu dihargai.

Karena melestarikan pangan lokal pada akhirnya juga bisa berarti ikut menjaga pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan mungkin kontribusi kita tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Bisa dimulai dengan lebih mengenal, lebih menghargai, dan lebih memilih pangan yang berasal dari daerah kita sendiri.

Dari Kebun, Saya Pulang Membawa Cerita

Yang paling saya suka dari Kick Off EBS di Seniman Pangan adalah cara belajarnya.

Kami tidak hanya duduk mendengarkan.

Kami melihat, menyentuh, memanen, menanam, mengolah, mencicipi, dan berdiskusi.

Dari kebun sampai meja makan, semuanya terasa seperti satu rangkaian cerita.

Dan buat saya, pengalaman seperti ini justru membuat pesan tentang pangan lokal menjadi lebih mudah dipahami.


Karena kita tidak hanya diberi tahu bahwa pangan lokal itu penting.

Kita diajak merasakan sendiri kenapa pangan lokal itu penting.

Mulai dari singkong yang kita panen sendiri, sayuran yang kita tanam, kopi yang kita lihat langsung tanamannya, sampai makanan dari berbagai daerah yang kemudian tersaji di meja makan.

Semuanya mengingatkan saya bahwa makanan yang kita konsumsi hari ini bisa menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada yang kita bayangkan.

Jadi, mungkin setelah pengalaman ini, saya akan sedikit lebih sering bertanya ketika memilih makanan:

Ini berasal dari mana? Siapa yang membuatnya? Dan cerita apa yang ada di baliknya?

Karena ternyata, dari satu pilihan makanan lokal yang sederhana, kita juga bisa ikut menjaga ekonomi, pengetahuan tradisional, dan warisan budaya masyarakat lokal.

Dan kalau kontribusi itu bisa dimulai dari rumah, kenapa tidak kita mulai dari apa yang ada di piring kita hari ini?

Salam,


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar